Perbedaan Fake Leader dan Fake Leadership

Uncategorized

Dalam suatu komunitas, akan ada yang disebut sebagai team atau member atau anggota atau apapun lah itu nama aliasnya, yang otomatis dengan kehadiran beberapa istilah keanggotaan tersebut secara alami akan memunculkan sosok pemimpin yang pada dasarnya tugasnya adalah mengendalikan member, team atau anggota tersebut.

 

velg mobil
velg mobil

 

Menurut velg mobil leadership adalah cara atau proses untuk mempengaruhi orang lain (John Maxwell,The 360 Degree Leader), artinya ketika kita bicara seorang leader maka kehadiran nya tidak hanya ada secara fisik, tidak hanya ada secara struktur organisasi,namun harus mampu membuat anggota dalam satu komunitas tersebut mengikuti setiap instruksi yang disampaikan, mengerjakan setiap tahapan pekerjaan yang sudah ditentukan, mengaplikasikan setiap job desc yang jelas sudah diatur dan ditentukan.

Jadi seorang leader sangatlah mudah, karena pada dasarnya setiap manusia memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin, sebut saja ketika seseorang memutuskan untuk berumah tangga, maka dengan sendirinya akan ada yang namanya kepala keluarga yang kemudian disebut dengan suami, dialah leader dalam komunitas keluarga, lalu dalam satu kelas dengan sejumlah siswa didalamnya akan ada yang disebut dengan Ketua Kelas atau Ketua Murid yang menjadi wakil dari Wali Kelas untuk ikut memperhatikan teman-temannya agar bisa tertib, itulah leader dalam komunitas sekolah dan masih banayak lagi. Artinya dalam setiap kelompok atau komunitas akan muncullah seorang leader, namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa baikkah leader tersebut telah menjalankan fungsinya, seberapa berpengaruh kan leader tersebut dalam membentuk kelompoknya dan membawa perubahan untuk lingkup yang lebih besar lagi, inilah yang disebut Leadership atau Kepemimpinan.

Kemampuan seorang leader dalam menjalankan aksi Leadership nya sangat mempengaruhi kemajuan kelompoknya, bahkan sangat mempengaruhi kinerja dari anggotanya, kinerja ini pulalah yang akan memunculkan alasan yang terkait dengan komitmen kerja, kepuasan kerja, tingkat koordinasi dalam bekerja sampai tingket pemecahan masalah dalam suatu komunitas.

Fake Leadership, ini yang harus dihindari suatu organisasi atau company, artinya secara struktur leader ini ada, namun saat masalah tak kunjung selesai, anggota kelompok yang serabutan kerja dan tak terarah, muncul gap community, tingkat efisiensi dan efektivitas kerja minim, strata yang tidak jelas, dan masih banyak lagi tanda-tanda satu komunitas bila di kepalai oleh seorang fake leader yang pada akhirnya muncullah fake leadership.

Survey membuktikan dari 300 kuesioner, 75% menyatakan bahwa member, team atau anggota kelompok ini kecewa atau tidak puas dengan kinerja atasannya, hasil kuesioner bervariasi, dengan nilai tertinggi adalah team tidak diperhatikan saat sedang mengadapi masalah, artinya dibiarkan untuk menyelesaikan sendiri dengan alasan agar mampu mengeti tahapan pekerjaan, untuk jawaban ini boleh dibilang benar, namun apabila tidak ada kontrol, tidak ada pendampingan maka sama saja anda membiarkan anda kerja buta, saat team gagal dalam melaksanakan pekerjaannya, maka leader tinggal tunjuk tangan , sedikit emosi dikeluarkan, lalu punishment diberikan dilanjutlan dengan tandatangan komitmen agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, is this fair? i don’t think so.

Bagaimanapun posisi atasan sangat dapat dan harus dapat mempengaruhi kelompoknya, benar bila tujuan leader untuk membentuk team yang lebih baik adalah dengan menambah ilmu baik dari segi softskill atau hardskill, namun perlu diingat keberadaan atasan sangat diperlukan team, baik dari segi pendampingan, motivasi, kontrol, care dan saling menghargai.

Jangan memilih pemimpin karena suka dan tidak suka, jangan pula memilih karena dekat atau tidak dekat, apalagi memilih karena sudah lama atau tidak nya bekerja, hal inilah yang akan membentuk Fake Leader with Fake Leadership. Hanya akan memenuhi kuota organisasi tapi tidak memenuhi kuota kinerja dalam organisasi.

Leader and Team are like chains that will never be broken, saat ada yang terputus maka hancurlah pekerjaan, kerja dan kinerjanya.

Transparan dalam menilai, akan lebih baik daripada menutup mata agar satu pihak menjadi senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *